LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI
(RUANG MURAI I)
HIPERTENSI
A. Defenisi
Tekanan
darah meningkat sesuai dengan umur dan distribusi nilai tekanan darah dalam
masyarakat merupakan variabel kontinyu dimana rentang normal didefinisikan
sebagai nilai ujung dan nilai yang lebih tinggi atau keadaan mulai hipertensi.
Hipertensi
atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah
yang mengakibatkan asupan atau suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh
darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya.
Tekanan
darah sangat bervariasi tergantung pada keadaan. Tekanan darah akan meningkat
saat aktivitas fisik, emosi, dan stres, dan akan turun selama tidur.sebelum
dibuat diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran berulang paling tidak pada
tiga kesempatan yang berbeda selama 4-6 minggu.
Penyakit
hipertensi atau tekanan darah tinggi dewasa ini menunjukkan angka kejadian yang
semakin meningkat. Beberapa faktor resiko yang menjadi penyebabnya kemungkinan
berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan hidup yang tidak sehat, mulai dari
pemilihan menu makanan harian yang tidak benar, stres pekerjaan, stres urusan
rumah tangga, olahraga yang tidak teratur, ataupun waktu istirahat yang tidak
cukup.
Tekanan
darah yang dibiarkan dalam keadaan tinggi terus menerus tanpa terkendali dengan
baik akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang serius, juga berhubungan
dengan terjadinya berbagai macam penyakit termasuk timbulnya penyakit jantung,
maupun penyebab stroke.
a.
Jenis
Hipertensi
Penyakit
hipertensi sering disebut sebagai the
silent disease. Umumnya penderita tidak mengetahui dirinya mengidap
hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Hipertensi dapat
dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu:
1. Hipertensi
primer
Merupakan
hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas. Berbagai factor
diduga turt berperan sebagai penyebab hipertensi primer, seperti bertembahnya
umur, stres psikologis, dan keturunan.
2. Hipertensi
sekunder
Merupakan
hipertensi yang penyebabnya pasti, misalnya ginjal yang tidak berfungsi,
pemakaian kontrasepsi oral, dan terganggunya keseimbangan hormone yang
merupakan factor pengatur tekanan darah.
b.
Gejala
Hipertensi
Gejala-gejala
hipertensi antara lain pusing, muka merah, sakit kepala, keluar darah dari
hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal, dan lain-lain. Dampak yang dapat
ditimbulkan oleh hipertensi adalah kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput
bening, pecahnya pembuluh darah diotak, kelumpuhan, serta penyakit jantung
c.
Derajat
Hipertensi
Derajat
hipertensi dapat dikelompokkan:
No
|
KONDISI
|
SISTOLIK
(mmHg)
|
DIASTOLIK
(mmHg)
|
1.
|
Normal
|
120 - 130
|
80 - 85
|
2.
|
Normal
tinggi
|
130 - 140
|
85 - 90
|
3.
|
Hipertensi
stadium 1
|
140 - 160
|
90 - 100
|
4.
|
Hipertensi
stadium 2
|
160 - 180
|
100 - 110
|
5.
|
Hipertensi
stadium 3
|
>180
|
>110
|
d.
Diit
Hipertensi
Pengaturan menu bagi penderita hipertensi dapat
dilakukan dengan 4 cara:
1. Diit
rendah garam
a. Diit
ringan (konsumsi garam 3,75 – 7,5 gr/hari).
b. Diit
menengah (konsumsi garam 1,25 – 3,75 gr/hari).
c. Diit
berat (konsumsi garam <1,25 gr/hari).
2. Diit
rendah kolesterol dan lemak
3. Diit
tingi serat
4. Diit
rendah energy
B. Mekanisme Hipertensi
Mekanisme
terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin
I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis
penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang
diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormone, renin yang diproduksi oleh ginjal
akan diubah menjadi angiotensin I. oleh ACE yang terdapat di paru-paru,
angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang
memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi
pertama, meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH
diproduksi dihipotalamus (kelenjar pituitary) dan bekeraja pada ginjal untuk
mengatur osmolalitas dan volume urin. Meningkatnya ADH menyebabkan sedikit urin
yang diekskresikan keluar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan
tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan
ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya,
volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi
kedua, menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron
merupakan hormone steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk
mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan
ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
C. Analisa Kebutuhan Pasien
1.
Istirahat: Mengurangi penggunaan energi, serta membantu
dalam menurunkan tekanan darah.
2.
Diet: Menjaga setiap
makanan yang dimakan pasien agar terhindar dari makanan yang mengandung lemak
dan kolesterol. Makanan yang dikonsumsi rendah garam.
3.
Nyeri: Membantu
menghilangkan rasa nyeri kepala dengan teknik relaksasi.
4.
Cairan: Mencatat adanya
mual muntah.
D. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan yang mungkin timbul adalah:
1. Penurunan
curah jantung b.d peningkatan tekanan darah.
2. Nyeri
akut, sakit kepala b.d peningkatan tekanan vaskular serebral.
3. Resiko
perubahan nutrisi b.d anoreksia.
4. Intoleransi
aktivitas b.d kelemahan umum.
5. Koping
inefektif b.d perubahan hidup.
6. Kurang
pengetahuan b.d keterbatasan kognitif
E.
Rencana
Tindakan Keperawatan
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Penurunan curah
jantung b.d peningkatan tekanan darah
|
Mandiri:
1. Pantau
TD. Ukur pada kedua tangan atau paha untuk evaluasi awal.
2.
Amati warna kulit, kelembaban, suhu,
dan masa pengisian kapiler.
3. Catat
edema umum atau tertentu.
4. Berikan
lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas lingkungan.
5. Pertahankan
pembatasan aktivitas, seperti; istirahat ditempat tidur, jadwal periode
istirahat.
6. Anjurkan
teknik relaksasi, panduan imajinasi, pengalihan aktivitas.
7. Pantau
respon obat tekanan darah.
Kolaborasi:
1. Berikan
obat-obat sesuai indikasi, contoh:
-
Diuretic tiazid (klorotiazid,
hidroklorotiazid.
-
Diuretic loop (lasix, edecrin).
2. Berikan
pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.
|
Perbandingan dari
tekanan memberikan gambaran lengkap masalah vaskular.
Pucat, dingin,
kulit lembab & masa pengisian kapiler lambat berkaitan dgn dekompensasi.
Mengindikasikan
gagal jantung, kerusakan ginjal.
Membantu untuk
menurunkan rangsang simpatis; meningkatkan relaksasi.
Menurunkan
stres dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit.
Dapat
menurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga
akan menurunkan TD.
Respon obat tergantung
individu & efek obat.
Menurunkan TD
dengan fungsi ginjal yang relatif normal, serta menghambat reabsorpsi natrium
dan klorida dan merupakan antihipertensi efektif, khususnya pada pasien yang
mengalami kerusakan ginjal.
Pembatasan
dapat menangani retensi cairan dengan respon hipertensif, dengan demikian
menurunkan beban kerja jantung.
|
3.
|
Nyeri akut,
sakit kepala b.d peningkatan tekanan vaskular serebral
|
Mandiri:
1. Pertahankan
tirah baring pada pasien selama fase akut.
2. Berikan
tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misal; kompres
dingin, pijat, relaksasi.
3. Minimalkan
aktivitas yang dapat meningkatkan sakit kepala.
4. Bantu
pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
5. Berikan
cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur jika terjadi perdarahan
hidung.
Kolaborasi:
1. Berikan
analgesic sesuai indikasi.
2. Berikan
antiansietas: lorazepam, diazepam.
|
Meminimalkan
stimulasi/meningkatkan relaksasi.
Menurunkan tekanan
vaskular serebral dan memperlambat respon simpatis efektif dalam
menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
Aktivitas yang
meningkat menyebabkan sakit kepala karena adanya peningkatan tekanan vaskular
serebral.
Pasien biasanya
mengalami pusing juga kadang mengalami hipotensi postural.
Meningkatkan
kenyamanan umum. Kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan
napas mulut.
Menurunkan
nyeri dan menurunkan rangsang simpatis
Mengurangi
tegangan & ketidaknyamanan yang diperberat oleh stress.
|
4.
|
Resiko perubahan
nutrisi b.d anoreksia
|
Mandiri:
1. Bicarakan
pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam, gula
sesuai indikasi.
2. Kaji
ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.
3. Dorong
pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk kapan &
dimana makan dilakukan & lingkungan sekitar pasien.
4. Instruksikan
dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak
tinggi dan kolesterol.
Kolaborasi:
1. Rujuk
ke ahli gizi sesuai indikasi
|
Kesalahan
kebiasaan makan menunjang terjadinya sklerosis dan kegemukan yang merupakan
predisposisi untuk hipertensi & komplikasinya.
Membantu dalam
menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian atau penyuluhan.
Memberikan
data dasar keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan.
Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien dapat mengontrol
perubahan.
Menghindari
makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan
aterogenesis.
Memberikan konseling
dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individual.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Doengoes. E. Mariylynn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Gray. H. Huon & Dawkins. D. Keith (2002). Kardiografi. Jakarta: Erlangga.