Senin, 31 Juli 2017

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI





LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI
(RUANG MURAI I)


HIPERTENSI
A.      Defenisi
Tekanan darah meningkat sesuai dengan umur dan distribusi nilai tekanan darah dalam masyarakat merupakan variabel kontinyu dimana rentang normal didefinisikan sebagai nilai ujung dan nilai yang lebih tinggi atau keadaan mulai hipertensi.
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan asupan atau suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya.
Tekanan darah sangat bervariasi tergantung pada keadaan. Tekanan darah akan meningkat saat aktivitas fisik, emosi, dan stres, dan akan turun selama tidur.sebelum dibuat diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran berulang paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda selama 4-6 minggu.
Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi dewasa ini menunjukkan angka kejadian yang semakin meningkat. Beberapa faktor resiko yang menjadi penyebabnya kemungkinan berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan hidup yang tidak sehat, mulai dari pemilihan menu makanan harian yang tidak benar, stres pekerjaan, stres urusan rumah tangga, olahraga yang tidak teratur, ataupun waktu istirahat yang tidak cukup.
Tekanan darah yang dibiarkan dalam keadaan tinggi terus menerus tanpa terkendali dengan baik akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang serius, juga berhubungan dengan terjadinya berbagai macam penyakit termasuk timbulnya penyakit jantung, maupun penyebab stroke.

a.    Jenis Hipertensi
Penyakit hipertensi sering disebut sebagai the silent disease. Umumnya penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu:
1.      Hipertensi primer
Merupakan hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas. Berbagai factor diduga turt berperan sebagai penyebab hipertensi primer, seperti bertembahnya umur, stres psikologis, dan keturunan.
2.      Hipertensi sekunder
Merupakan hipertensi yang penyebabnya pasti, misalnya ginjal yang tidak berfungsi, pemakaian kontrasepsi oral, dan terganggunya keseimbangan hormone yang merupakan factor pengatur tekanan darah.
b.   Gejala Hipertensi
Gejala-gejala hipertensi antara lain pusing, muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal, dan lain-lain. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi adalah kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput bening, pecahnya pembuluh darah diotak, kelumpuhan, serta penyakit jantung
c.    Derajat Hipertensi
Derajat hipertensi dapat dikelompokkan:
No
KONDISI
SISTOLIK (mmHg)
DIASTOLIK (mmHg)
1.
Normal
120 - 130
80 - 85
2.
Normal tinggi
130 - 140
85 - 90
3.
Hipertensi stadium 1
140 - 160
90 - 100
4.
Hipertensi stadium 2
160 - 180
100 - 110
5.
Hipertensi stadium 3
>180
>110

d.   Diit Hipertensi
Pengaturan menu bagi penderita hipertensi dapat dilakukan dengan 4 cara:
1.      Diit rendah garam
a.       Diit ringan (konsumsi garam 3,75 – 7,5 gr/hari).
b.      Diit menengah (konsumsi garam 1,25 – 3,75 gr/hari).
c.       Diit berat (konsumsi garam <1,25 gr/hari).
2.      Diit rendah kolesterol dan lemak
3.      Diit tingi serat
4.      Diit rendah energy
B.  Mekanisme Hipertensi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormone, renin yang diproduksi oleh ginjal akan diubah menjadi angiotensin I. oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama, meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi dihipotalamus (kelenjar pituitary) dan bekeraja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Meningkatnya ADH menyebabkan sedikit urin yang diekskresikan keluar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua, menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormone steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
C.  Analisa Kebutuhan Pasien
1.                                     Istirahat:  Mengurangi penggunaan energi, serta membantu dalam menurunkan tekanan darah.
2.                       Diet: Menjaga setiap makanan yang dimakan pasien agar terhindar dari makanan yang mengandung lemak dan kolesterol. Makanan yang dikonsumsi rendah garam.
3.                       Nyeri: Membantu menghilangkan rasa nyeri kepala dengan teknik relaksasi.
4.                       Cairan: Mencatat adanya mual muntah.
D.  Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah:
1.      Penurunan curah jantung b.d peningkatan tekanan darah.
2.      Nyeri akut, sakit kepala b.d peningkatan tekanan vaskular serebral.
3.      Resiko perubahan nutrisi b.d anoreksia.
4.      Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum.
5.      Koping inefektif b.d perubahan hidup.
6.      Kurang pengetahuan b.d keterbatasan kognitif
E.       Rencana Tindakan Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Intervensi
Rasional
1.
Penurunan curah jantung b.d peningkatan tekanan darah

Mandiri:
1.     Pantau TD. Ukur pada kedua tangan atau paha untuk evaluasi awal.
2.     Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
3.     Catat edema umum atau tertentu.
4.     Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas lingkungan.
5.     Pertahankan pembatasan aktivitas, seperti; istirahat ditempat tidur, jadwal periode istirahat.
6.     Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, pengalihan aktivitas.
7.     Pantau respon obat tekanan darah.
Kolaborasi:
1.     Berikan obat-obat sesuai indikasi, contoh:
-   Diuretic tiazid (klorotiazid, hidroklorotiazid.
-   Diuretic loop (lasix, edecrin).
2.     Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.

Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran lengkap masalah vaskular.
Pucat, dingin, kulit lembab & masa pengisian kapiler lambat berkaitan dgn dekompensasi.
Mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal.
Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis; meningkatkan relaksasi.
Menurunkan stres dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit.
Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan TD.
Respon obat tergantung individu & efek obat.

Menurunkan TD dengan fungsi ginjal yang relatif normal, serta menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dan merupakan antihipertensi efektif, khususnya pada pasien yang mengalami kerusakan ginjal.
Pembatasan dapat menangani retensi cairan dengan respon hipertensif, dengan demikian menurunkan beban kerja jantung.
3.
Nyeri akut, sakit kepala b.d peningkatan tekanan vaskular serebral

Mandiri:
1.     Pertahankan tirah baring pada pasien selama fase akut.
2.     Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misal; kompres dingin, pijat, relaksasi.
3.     Minimalkan aktivitas yang dapat meningkatkan sakit kepala.
4.     Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
5.     Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur jika terjadi perdarahan hidung.
Kolaborasi:
1.     Berikan analgesic sesuai indikasi.
2.     Berikan antiansietas: lorazepam, diazepam.

Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi.
Menurunkan tekanan vaskular serebral dan memperlambat respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
Aktivitas yang meningkat menyebabkan sakit kepala karena adanya peningkatan tekanan vaskular serebral.
Pasien biasanya mengalami pusing juga kadang mengalami hipotensi postural.
Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan napas mulut.

Menurunkan nyeri dan menurunkan rangsang simpatis
Mengurangi tegangan & ketidaknyamanan yang diperberat oleh stress.
4.
Resiko perubahan nutrisi b.d anoreksia

Mandiri:
1.    Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam, gula sesuai indikasi.
2.     Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.
3.     Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk kapan & dimana makan dilakukan & lingkungan sekitar pasien.
4.     Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi dan kolesterol.
Kolaborasi:
1.     Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi

Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya sklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi & komplikasinya.
Membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian atau penyuluhan.
Memberikan data dasar keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan. Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien dapat mengontrol perubahan.
Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis.


Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individual.



DAFTAR PUSTAKA
Doengoes. E. Mariylynn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Gray. H. Huon & Dawkins. D. Keith (2002). Kardiografi. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar